Mengungkap rahasia sukses Astra dan Blue Bird dalam transformasi digital

28 Jan 2026

Di tengah masyarakat yang sudah sangat lekat dengan bantuan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, dunia usaha pun dituntut melakukan transformasi digital agar bisa tetap relevan bagi konsumen.

Eratnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari tercermin dalam survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menyebutkan, total pengguna internet mencapai 221 juta orang pada 2024. Ini berarti sebanyak 79,5 persen dari populasi Indonesia telah menggunakan internet.

Tidak hanya tingkat penetrasinya yang tinggi, masyarakat Indonesia juga gemar menggunakan internet. Mayoritas atau 54,68 persen penduduk Indonesia menggunakan internet selama 1-5 jam dalam sehari. Bahkan 11,42 persen warga menggunakan internet hingga lebih dari 10 jam sehari.

Menurut survei ini, ada sembilan alasan masyarakat menggunakan internet, antara lain untuk mengakses e-mail, transportasi online, layanan keuangan, konten hiburan, informasi berita, bekerja/sekolah online, transaksi online, layanan publik, dan media sosial.

Seiring dengan semakin masifnya adopsi teknologi ini, korporasi yang terlambat bahkan tidak melakukan transformasi digital akan ketinggalan zaman dan kesulitan bersaing.

Namun, proses ini bukanlah hal mudah. Riset Boston Consulting Group (BCG) pada 2020 menyebutkan, sebanyak 70 persen korporasi dunia itu gagal lakukan transformasi digital.

Penyebabnya mulai dari tidak jelasnya tujuan dan arah transformasi digital, kurangnya investasi infrastruktur digital penunjang, hingga kegagapan sumber daya manusia (SDM) perusahaan untuk berubah,

Managing Partner EY Consultant Gaurav Modi pun bilang, banyak korporasi besar gagal melakukan transformasi digital lantaran terlalu menyederhanakan hal tersebut. Padahal, transformasi digital perlu mengubah banyak hal secara menyeluruh dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Transformasi digital itu adalah perjalanan yang penuh perjuangan dan penderitaan. Perlu kepemimpinan yang kuat yang bisa membawa perusahaan melewatinya,” ujar Gaurav dalam acara Asia Economic Summit (AES) 2025 pada Kamis (26/6/2025).

Keberlanjutan

Kendati sulit dilakukan, bukan berarti tak ada korporasi besar di Indonesia yang sukses melakukan transformasi digital. Grup Astra dan Blue Bird adalah dua di antaranya.

Chief of Group Digital Strategy Astra Paul Soegianto mengatakan, transformasi digital telah menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar agar perusahaan tetap relevan di mata konsumen. “Pada akhirnya tiap perusahaan di dalam industri ini berkompetisi. Transformasi digital diperlukan untuk menciptakan ketahanan dan keberlanjutan usaha di masa mendatang,” ujar Paul.

Paul menjelaskan, transformasi digital tidak sesederhana memindahkan bisnis yang dulunya offline menjadi online. Hal itu, lanjutnya, harus betul-betul membawa nilai tambah ke perusahaan, seperti:

  • Meningkatkan efisiensi operasional,
  • Membawa arus pendapatan baru, serta
  • Memberikan pengalaman kenyamanan kepada konsumen.

Untuk mencapai hal itu, diperlukan visi yang jelas dan upaya keberlanjutan terus menerus. Selain itu, perlu ada perubahan cara pandang SDM perusahaan dan belanja investasi infrastruktur digital.

Demi mencapai tujuan itu, Astra bahkan membentuk anak usaha digital sendiri,  yakni Astra Digital (PT Astra Digital Internasional) sejak 19 April 2018.

Entitas anak ini bertujuan mendorong inovasi digital dan memberikan proposisi nilai baru kepada pelanggan Astra. Selain itu, bertujuan mendukung upaya transformasi digital di unit bisnis Astra yang lainnya.

Adapun, Direktur Utama PT Blue Bird Adrianto (Andre) Djokosoetono mengatakan, transformasi dan adaptasi telah menjadi bagian erat di Blue Bird sejak dahulu. “Itu sudah ada dalam DNA kami sejak puluhan tahun lalu,” ujar Andre.

Ia menjelaskan, transformasi sudah dilakukan Blue Bird sejak taksi itu hanya bisa dipesan dari pinggir jalan. Mereka pun berinovasi dengan layanan pemesanan telepon.

Selain itu, Blue Bird sempat berinovasi melakukan pemesanan lewat Blackberry Messenger (BBM) hingga pengembangan pemesanan digital. Hanya saja, hal itu terdisrupsi oleh munculnya layanan ride-hailing yang cukup menggoyang bisnis Blue Bird.

Alih-alih bersaing, Blue Bird memilih bekerja sama dengan para penyedia layanan ride-hailing. Pada saat yang sama, Blue Bird juga terus mengembangkan aplikasi bernama My Blue Bird, sehingga membuka lebih banyak saluran untuk pemesanan taksi alias omni-channel.

Tidak hanya berhenti pada layanan pemesanan, My Blue Bird terus berinovasi menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Misalkan dengan menyediakan fitur "Fixed Price" agar tarif perjalanan taksi tidak berubah, terlepas dari kondisi lalu lintas seperti macet atau jam sibuk.

Berkat transformasi digital ini, lanjut Andre, sekitar 60 persen pemesanan taksi Blue Bird pada saat ini berasal dari online. Sementara, sisanya berasal dari pemesanan offline.

“Yang mau saya sampaikan adalah transformasi digital itu adalah perjalanan panjang dan berkelanjutan. Bukan usaha instan. Kadangkala menyakitkan. Namun, itu harus dilakukan,” ujar Andre.

Apa yang harus dilakukan?

Gaurav dari EY mengatakan, untuk menciptakan transformasi digital yang sukses, maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi terlebih dahulu apa kebutuhan konsumen.

Arah transformasi digital tidak boleh dilakukan atas dasar ego manajemen, tetapi mengarah pada kebutuhan pasar. Setelahnya, barulah dilakukan pengembangan digital yang sesuai.

Pada saat ini, lanjut Gaurav, konsumen sangat menyukai dan membutuhkan pengalaman digital yang menyenangkan. Di sinilah letak pentingnya mengembangkan aplikasi yang mudah digunakan, sehingga penetrasi pasar dari layanan digital bisa optimal.

Salah satu tips sukses yang disampaikan Paul dari Astra dan Blue Bird adalah terus melihat perkembangan teknologi dari perusahaan lain. Apabila ada yang dirasa cocok, alih-alih bersaing, lebih baik bekerja sama saja.

“Misalkan saya lihat teknologi dari Telkomsel atau Google atau Microsoft ini bagus sekali dan cocok dengan arah digitalisasi kami. Kenapa tidak (kerja sama)?” ujar Paul.

Source: Tech in Asia

Read more articles