Tingkat adopsi tinggi, bagaimana Indonesia menjadi pemain AI penting di Asia?

28 Jan 2026

Di Indonesia, potensi AI tengah bangkit cepat. Statista Market Insight memproyeksikan AI dapat berkontribusi 2,83-3,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030. Ini merupakan kenaikan signifikan dari kontribusi 0,58-0,8 persen pada 2024.

Tingkat adopsi tinggi 


Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan besarnya potensi pemanfaatan AI di Indonesia dalam acara Asia Economic Summit, di Jakarta, Kamis (26/06/2025). Menurutnya, tingkat adopsi AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah mencapai 65 persen

Kontribusi dominan berasal dari Indonesia sebagai negara dengan populasi dan pengguna internet terbesar di kawasan. 

"Saya melihat ASEAN memiliki potensi besar untuk pengembangan teknologi AI. Kawasan ini memiliki ratusan juta penduduk serta banyak kreator, yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital," ujar Meutya. 

Tren tingginya penggunaan AI di Indonesia tecermin juga dalam Laporan Microsoft dan Linkedin yang mengungkap bahwa 92 persen pekerja terampil di Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka.

 "Ini berarti talenta digital kita melampaui talenta global yang berada di angka 75 persen, dan bahkan lebih tinggi dari Asia Pasifik yang mencatat 82 persen," kata Meutya.

Hal ini, diamini Chief Economist OpenAI, Ronnie Chatterji.Menurutnya, Indonesia, bersama dengan India dan Jepang, merupakan tiga pemain negara yang mencatatkan jumlah pengguna mingguan Chat GPT terbanyak di kawasan Asia Pasifik. 

“Saat ini, jumlah pengguna Chat GPT di Asia telah tumbuh sebesar 700 persen secara rata-rata di 2024,” ujarnya, ketika menjadi salah satu panelis di acara Asia Economic Summit 2025.

Menjadi pemain penting 

Tak cukup hanya menjadi pengguna, Ronnie dari OpenAI menjelaskan, ada berbagai hal yang dapat dilakukan para negara di Asia untuk mengembangkan potensi AI yang dimiliki. Pertama, negara-negara di Asia perlu memastikan ketersediaan infrastruktur dan kesiapan pemanfaatan energi berkelanjutan. 

“Pemanfaatan AI memang perlu energi yang tak sedikit,” ujar Ronnie. Oleh karena itu, pemanfaatan energi yang terbarukan, menjadi salah satu faktor penting di era pengembangan AI saat ini. 

Kedua, kesiapan tenaga kerja dan ekosistem ekonomi digital yang berbasis AI, Ronnie melanjutkan, juga kini harus mulai dipersiapkan oleh para negara di kawasan Asia. 

Ketiga, khusus untuk Indonesia, mengoptimalkan pertumbuhan adopsi AI dan meningkatkan penetrasi digital, disebut Ronnie, menjadi dua strategi yang bisa membawa loncatan besar pemanfaatan AI. 

“Harus ada aplikasi pemanfaatan AI yang benar-benar resonate dengan masyarakat sehingga dampak pemanfaatannya langsung terasa,” kata Ronnie. 

Hal serupa diungkapkan pula oleh Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda. Menurutnya, pentingnya kehadiran AI dalam menunjang aktivitas ekonomi digital tidak bisa lepas dari kesiapan masyarakat Indonesia sendiri. 

“Kesiapan masyarakat merupakan kunci bagi pemerintah untuk pengambilan kebijakan mengenai pengembangan AI,” ujar Huda, kepada Tech in Asia, Senin (30/06/2025). 

Saat ini, ia melanjutkan, minat masyarakat terhadap pemanfaatan AI cukup tinggi. Tidak hanya di wilayah Jakarta, tetapi juga di daerah seperti Kepulauan Riau dan Kalimantan Timur.

Huda menjelaskan, pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) perlu melakukan pemetaan dan pengukuran kesiapan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan AI. 

“Dengan dukungan dari pemerintah, baik melalui studi kebijakan penerapan AI, ditambah tingginya adopsi AI di dunia kerja, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memaksimalkan potensi teknologi ini,” katanya.

Masih banyak tantangan 

Jalan Indonesia untuk dapat menjadi pemain penting di era pemanfaatan AI, disampaikan Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (IDIEC), Tesar Sandikapura, masih cukup panjang. Menurutnya, Indonesia masih perlu menggarap kerangka kerja atau struktur standar pengembangan teknologi AI secara jangka panjang. 

“Teknologi AI memerlukan daya komputasi yang sangat tinggi, hampir setara super computer,” ujar Tesar, kepada Tech in Asia, Kamis (26/06/2025). 

Indonesia, ia melanjutkan, bisa dikatakan belum memiliki rencana yang jelas bagaimana mempersiapkan infrastruktur pengembangan AI secara lebih jauh. 

Kondisi ini jauh berbeda bila berkaca dari Cina yang sukses mengembangkan Deep Seek, Negeri Tirai Bambu berhasil mengembangkan ekosistem AI yang bisa digunakan secara luas oleh negara dan seluruh masyarakatnya. Sejak resmi dirilis pada awal 2025, Pemerintah Cina telah mengintegrasikan teknologi yang digunakan Deep Seek ke berbagai perusahaan besar. 

Mulai dari, Tencent yang mengintegrasikan Deep Seek dengan platform pembayaran Wechat, BYD untuk pengembangan kendaraan swakemudi, hingga Huawei yang mengintegrasikan Large Language Model (LLM) DeepSeek V3 dan model penalaran R1 dengan layanan cloud Ascend. 

“Di Indonesia, pemanfaatan AI digunakan masih secara parsial, disesuaikan dengan kebutuhan dari tiap industri yang menggunakan,” jelas Tesar. 

Tantangan geografis, juga menjadi salah satu tantangan utama pengembangan AI di Indonesia. Hal ini disampaikan President Director & CEO of Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Vikram Sinha

Ia mengungkapkan, sebagai negara dengan potensi besar dan geografi yang menantang, Indonesia membutuhkan teknologi inklusif lebih dari sebelumnya. “Saat ini, salah satu pekerjaan utama para penyedia konektivitas seperti Indosat, adalah memastikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Vikram. 

Kolaborasi antara pemain, disebut Vikram, menjadi salah satu strategi yang kini akan coba dilakukan oleh para pemain di industri telekomunikasi. Di era AI, ia menegaskan, konektivitas dan kecerdasan harus dijalankan dengan cara yang lebih inovatif dan kolaboratif.

Salah satu inisiatif yang telah dilakukan IOH adalah meresmikan AI Experience Center (AIEC) di Jayapura, Provinsi Papua, pada akhir Juni 2025. Inisiatif ini, digarap bekerja sama dengan mitra global seperti Huawei dan juga Wadhwani Foundation. 

Vikram menjelaskan, AI Experience Center ini akan menjadi katalis untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia, dan membawa manfaat bagi masyarakat dari penggunaan AI. “Menghadirkan teknologi AI ke wilayah yang membutuhkan perhatian lebih, kami berupaya menciptakan akses yang lebih merata,” ujarnya. 

Source: Tech in Asia

Read more articles