Teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) kini tak hanya digunakan untuk alat bantu produktivitas semata. Sebagian masyarakat, khususnya dari generasi muda, di Indonesia mulai menggunakan AI seperti ChatGPT, Gemini, Anthropic, hingga DeepSeek untuk berbagi cerita dan mengungkapkan perasaannya.
Berdasarkan hasil survei Snapcart pada April 2025, sebanyak 6 persen dari 3.611 responden di Indonesia menggunakan AI untuk mencurahkan isi hatinya. Bahkan, 58 persen di antaranya sudah menjadikan AI sebagai pengganti sesi konsultasi konvensional dengan psikolog.
Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya kesehatan mental meningkat tajam.
Hal itu pun diakui oleh Ketua IPK Indonesia Wilayah Jawa Timur Toetiek Septriasih. Menurutnya, generasi z saat ini memang yang paling memiliki kesadaran paling tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental.
Selain itu, gen z lebih akrab dengan teknologi sejak usia dini. “Mereka terbiasa apa-apa menggunakan teknologi, terbiasa dengan bahasa chat. Jadi, ketika muncul ChatGPT dan kawan-kawan, digunakanlah pula teknologi ini untuk curhat,” ujar Toetiek kepada Tech in Asia pada Sabtu (21/06/2025).
Karakter generasi z juga dianggap lebih cenderung mengejar hal-hal instan. Apalagi, AI dapat digunakan kapan saja, tanpa batasan sesi, lebih terjangkau, dan minim penghakiman.
Di samping itu, akses ke psikolog di Indonesia masih sangat terbatas. Menurut data Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia jumlah psikolog klinis aktif hanya berjumlah sekitar 3.100 orang.
Ini berarti jumlah antara psikolog dan penduduk Indonesia hanya 1 berbanding 90.000. Jumlah tersebut masih jauh dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sebanyak 1 psikolog per 30.000 penduduk.
Peluang baru bagi startup
Fenomena ini pun mulai dimanfaatkan oleh sejumlah startup telehealth untuk menawarkan layanannya. Tenang.ai, misalnya, meluncurkan konsultasi kesehatan mental lewat obrolan berbasis AI dan konseling online dengan psikolog profesional.
Co-founder sekaligus CEO Tenang.ai Salma Dias Saraswati mengatakan, layanan ini awalnya diciptakan, karena dia merasa terlalu banyak klien yang ingin berkonsultasi. Sementara, dirinya hanya mampu melayani 3-4 pasien setiap hari.
“Bagaimanapun, keluhan dari para klien ini tetap harus didengarkan. Dari situlah, chatbot AI yang diberi nama Nesya lahir,” kata Salma ketika dihubungi Tech in Asia pada Selasa (24/06/2025).
Menurutnya, sejak dirilis pada pertengahan 2023, Tenang.ai telah memiliki lebih dari 50 ribu pengguna. Dari keseluruhan pengguna tersebut, memang 80 persen di antaranya datang dari kalangan gen Z.
Para klien generasi Z ini, kata Salma, biasanya menyampaikan berbagai keresahan yang mereka alami. Mulai dari urusan sekolah, percintaan, keluarga, hingga berbagai kecemasan dan kecenderungan overthinking yang mereka rasakan.
Besarnya potensi layanan kesehatan mental berbasis AI juga diakui CEO Muslim AI Nurana Indah Paramita. Menurutnya, Muslim AI hadir karena saat ini semakin banyak umat muslim di Indonesia yang lebih paham teknologi dan merasa perlu “ditemani” dalam perjalanan iman dan kehidupan sehari-hari.
Setelah lebih kurang dua pekan diluncurkan, platform ini telah menjangkau sekitar 5.000 pengguna. Mayoritas di antaranya berada di rentang usia 18–35 tahun.
“Secara demografi, sekitar 60 persen dari mereka merupakan perempuan,” ujar Paramita.
Menyimpan bahaya dan tantangan
Meski memiliki potensi besar, aktivitas curhat dengan AI bukan berarti sepenuhnya aman dilakukan. Toetiek dari IPK Jawa Timur mengungkapkan, secara umum pemanfaatan AI yang berlebihan berpotensi membuat otak mengalami penumpulan.
Di samping itu, AI juga memiliki kecenderungan untuk bias dan memvalidasi semua hal yang dirasakan oleh penggunanya. Ini berbeda ketika berkonsultasi ke psikolog.
“Terkadang ada ‘tamparan’ yang disampaikan supaya klien menyadari situasi yang dialami atau kekeliruannya selama ini,” ujar Toetiek.
Validasi positif tanpa penghakiman memang menjadi salah satu faktor yang membuat orang tertarik bercerita dengan AI. Namun, lanjutnya, hal tersebut juga bisa menjadi bumerang.
Ketika setiap keluhan atau kekhawatiran yang dirasakan seseorang selalu divalidasi AI, akar permasalahan dari persoalan mental seseorang justru akan sulit diatasi.
Tantangan serupa juga diamini oleh Salma dari Tenang.ai. Menurutnya, sejak awal mengembangkan Nesya, permasalahan etika, bias, dan halusinasi AI sudah menjadi perhatian utama.
Alhasil, Tenang.ai membatasi AI yang dimilikinya ketika berbicara dengan para pengguna. “Nesya hanya menerima keluhan yang berkaitan dengan well being dan mental health di tingkat yang ringan dan menengah,” katanya.
Di samping itu, chatbot milik Tenang.ai juga menggunakan pendekatan berbeda agar tidak selalu memvalidasi apa yang dirasakan penggunanya. Tingkat pemahaman chatbot untuk membaca konteks pembicaraan pun terus disempurnakan.
“Ini karena Nesya juga akan berperan sebagai filter awal untuk kasus-kasus yang mungkin perlu segera ditindaklanjuti oleh psikolog manusia,” kata dia.
Sementara, Mita dari Muslim AI mengatakan, ada dua hal yang menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan chatbot layanan kesehatan mental, yakni etika konten dan konteks krisis emosional.
Untuk mengatasi hal tersebut, Muslim AI menerapkan tiga prinsip:
- Filtering berbasis syariat dan etika digital: tidak memberikan opini sembarangan untuk hal-hal sensitif, seperti perceraian, gangguan mental berat, atau ide bunuh diri.
- Training model berbasis ulama dan psikolog: bermitra dengan organisasi dakwah islam, psikolog muslim, dan peneliti AI untuk fine-tune respons agar tetap empatik, ilmiah, dan tidak menghakimi.
- Privasi dan keamanan data pengguna: Seluruh sesi percakapan bersifat privat, tidak disimpan sebagai identitas individu, dan berupaya mematuhi standar perlindungan data berbasis Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan regulasi umum perlindungan data.


